Select Page

Peretasan yang dilakukan oleh para hacker semakin meresahkan masyarakat. Di era digital ini kejahatan di dunia internet terus bertumbuh dan menargetkan siapapun untuk menjadi korbannya terutama orang orang yang aktif mengakses internet. Pencurian data oleh para hackerpun kerap terjadi dan di nilai dapat sangat berbahaya dan merugikan.

Menyadari hal tersebut pada tanggal 22 Maret 2018 PT Sydeco meluncurkan teknologi terbaru untuk melindungi data-data sensitif di internet yaitu SST ( Secure System of Transmission) dan Archangel (Smart Box) yang disebut sebut menggantikan teknologi enkripsi dengan bahasa Alien.

PT SYDECO, bersama AKBP Roberto G. Pasaribu kepala divisi kejahatan siber Polda Metro Jaya

Teknologi ini diciptakan oleh para praktisi muda IT tanah air yang memiliki keahlian mumpuni di bidang keamanan siber. Keunggulan dari teknologi yang mereka ciptakan tersebut adalah dengan adanya learning machine di dalam sistem yang dapat menganalisa serangan yang telah terjadi dan mengantisipasi serangan yang akan terjadi di kemudian hari.

Bahasa ALIEN merupakan sebuah istilah yang digunakan Sydeco untuk menggantikan metode pengamanan data enkripsi dengan cara menterjemahkan data yang ditransmisikan menjadi bentuk bahasa yang tidak diketahui oleh siapapun. Bahasa ALIEN ini hanya dapat dipahami oleh agen- agen cerdas yang terdapat di dalam sistem kemanan SST dan archangel.

Archangel sebagai smart box, memiliki fungsi untuk menyaring lalu lintas data yang akan masuk ke jaringan pengguna, baik kabel maupun nirkabel. Artinya, seluruh aktifitas pengguna ketika berselancar di dunia maya akan dipantau oleh sistem keamanannya.

Ketika sebuah aktifitas tampak mencurigakan yang dilakukan oleh hacker misalnya, Archangel akan secara langsung memblokirnya sehingga data pengguna terproteksi. Tak hanya waktu peretasan, Archangel juga mampu mengidentifikasi teknik yang digunakan oleh hacker.

Patrick Houyoux Presiden Direktur Sydeco bersama AKBP Roberto G. Pasaribu kepala divisi kejahatan siber Polda Metro Jaya sebagai pembicara.

“Waktu, sensor yang diserang, alamat IP, port yang dituju, hingga teknik yang dilakukan hacker bisa terbaca. Ini lebih lengkap dari firewall biasa. Ini juga akan secara langsung ngeblok atau mencegah serangan hacker,” ujar tim Research and Development Sydeco, Bayu Kurniawan.

“Agen pengirim akan mengubah data pada gelombang dan warna yang berbeda-beda tergantung datanya. Data akan ditransfer menggunakan bahasa alien. Misalnya password, sehingga ketika ada serangan, data itu tidak bisa dipahami oleh hacker,” kata R&D Sydeco, Yudha Septian.

Meski kedua layanan ini hadir untuk menjaga keamanan data, Patrick Houyoux mengingatkan pengguna internet untuk tetap menjaga data sensitif mereka. Hal ini dikarenakan banyak orang yang secara tidak sadar memberikan data sensitif mereka contohnya saat sebelum menggunakan sebuah aplikasi yang baru saja di instal, masyarakat diharuskan untuk membaca “Term & Agreement” terlebih dahulu seperti pengaksesan galeri, kamera, file, kontak bahkan password. Rata-rata masyarakat saat ini tidak membaca lembar persetujuan pada aplikasi yang baru mereka install, sehingga mereka tak tahu data apa saja yang diambil atau diakses oleh aplikasi.