Select Page

Berita tentang hacker asal Sleman Oktober lalu cukup menyita perhatian. Dari aksi peretasan yang sudah dilakukan selama lima tahun, BBA mampu meraup bitcoin sebesar 300 bitcoin yang jika dikonversikan saat ini, maka jumlahnya sekitar Rp 31,5 milyar. Tak heran kalau ia mampu membeli Harley Davidson.

Setelah sekian tahun melakukan aksi cyber crime, BBA berhasil ditangkap oleh Polri dan mendapat ancaman hukuman penjara maksimal 10 tahun.

Modus Ransomware dari BBA

BBA melakukan tindak kejahatan siber dengan modus pengiriman ransomware. Ini merupakan malware yang dapat mengenkripsi file korban dan hanya bisa diakses oleh korban jika menebus sejumlah uang kepada pelaku.

BBA membeli file ransomware dari Dark Web. Setelah itu, ia mengirimkan email berisi ransomware ke ratusan alamat email di dunia. Salah satu korbannya adalah sebuah perusahaan di Texas, AS.

Ransomware ini akan bekerja dengan mengenkripsi file di gadget korban jika file di dalam email diklik. File yang telah terenkripsi tak bisa dibuka lagi oleh korban. Ketika korban membuka file, yang muncul justru pesan yang menyuruh korban membayar tebusan dengan mata uang Bitcoin.

Apa yang bisa kita pelajari?

Kabar tentang hacker dari Sleman yang berhasil tertangkap ini tentunya bisa memberikan beberapa pelajaran kepada kita tentang isu cyber security sekarang ini, terutama untuk perusahaan. Berikut ini beberapa poin pelajaran yang bisa kita petik dari berita tersebut.

1. Hacker Dalam Negeri Juga Berbahaya

Ini menjadi salah satu pertanda bahwa hacker dalam negeri juga berbahaya. Bisa saja BBA adalah satu dari sekian banyak hacker di Indonesia. Sial bagi BBA, karena Polri berhasil menangkapnya.

Jika BBA mengincar sistem komputer di luar negeri, apakah artinya perusahaan dalam negeri aman-aman saja? Tampaknya tidak. Indonesia sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara tidak menutup kemungkinan menjadi sasaran hacker, baik dari dalam maupun luar negeri.

Menurut laporan Check Point berjudul “Cyber Attack Trends: 2019 Mid-Year Report”, ransomware merupakan salah satu malware yang berpotensi berkembang di Indonesia (Infokomputer): 

  • ransomware (11 persen),
  • perbankan (30 persen),
  • seluler (34 persen),
  • cryptominers (48 persen)
  • botnet (42 persen).

2. Stop Pikir Panjang, Segera Proteksi Total File Anda

Ransomware menjadi momok akhir-akhir ini. Januari 2019 lalu, malware DJVU/STOP/RUMBA terdeteksi menginfeksi korbannya dengan cara menumpang pada program bajakan (Detik).

Antivirus tidak lagi cukup
Apakah proteksi data dari ransomware dan malware lainnya sudah cukup dengan software antivirus? Jawabannya tidak cukup. Malware saat ini bisa menyebar melalui banyak vektor, misalnya PC, perangkat seluler, dan media penyimpanan data (Infokomputer)

Maka dari itu, penting sekali bagi Anda untuk segera mendapatkan sistem cyber security terbaik untuk melindungi file-file penting perusahaan. Software Antivirus saja belum cukup.

Pilihlah perangkat keamanan jaringan yang mengkombinasikan hardware sekaligus software. Salah satu produk yang bisa Anda andalkan adalah Archangel© yang diciptakan PT Sydeco, perusahaan IT Security dari D.I. Yogyakarta, Indonesia.

Archangel© merupakan salah satu produk hardware unggulan PT Sydeco. Produk berbentuk Smart box ini mampu memproteksi jaringan dan data digital dari berbagai peretasan dan virus yang terus berevolusi.

Inilah solusi terbaik untuk melindungi jaringan dan aset digital yang Anda perlukan saat ini.

Jika Anda tertarik atau ingin mendapatkan informasi lebih lanjut seputar produk ini, mohon tak ragu untuk menghubungi kami di Halaman Kontak, email: [email protected], atau telepon: +62 274 488 272.